Stop Helicopter Parenting, Demi Kesehatan Mental Anak!



Dalam suatu keluarga, tiap orang tua menerapkan pola asuh yang berbeda. Perbedaan pola asuh yang diterapkan menciptakan perbedaan karakter antara anak satu dengan anak lainnya. Seorang ahli psikolog bernama Ann Dunnewold Ph.D, menyatakan bahwa helicopter parenting adalah usaha orang tua untuk selalu terlibat dalam kehidupan anak.  Helicopter parenting menggambarkan sikap orang tua selalu mengendalikan kehidupan anak dalam hal apapun baik itu dalam dunia sekolah, pergaulan, bahkan karir.

Orang tua helikopter ini selalu mengawasi anak atau bahkan mengekang sehingga anak sulit menentukan pilihan hidupnya sendiri. Contohnya ketika anak sudah lulus dari sekolah menengah dan ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, si orang tua helikopter inilah yang mengarahkan anak untuk mengambil jurusan yang sesuai dengan keinginan orang tua, tanpa bertanya kepada si anak mengenai suka atau tidaknya jika kuliah dengan jurusan tersebut. Mereka seolah lupa bahwa sebetulnya bukanlah seseorang yang berfungsi dan betanggung jawab untuk mencapai keinginan mereka yang belum terlaksana di masa lalu.

Helicopter parenting juga menyebabkan anak sulit mengatakan apa yang dirasakannya. Anak sulit merasakan kebahagiaan yang seutuhnya karena orang tua mereka tak membiarkan mereka merasakan perasaan sedih, kecewa, marah, dan perasaan tak suka. Padahal perasaan-perasaan seperti itu normal dirasakan oleh manusia. Adapun dampak dari helicopter parenting yakni sebagai berikut.

 

Anak sulit mandiri


Sikap mandiri memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Sikap mandiri yang membuat anak untuk terus berusaha mengerjakan sesuatu yang bisa dilakukannya dengan kemampuan yang dimiliki sebelum bertanya kepada orang lain. Namun dalam pola asuh helikopter ini, anak sulit sekali merasa mandiri karena selalu ada orang tua yang senantiasa memantau apa saja yang dilakukan si anak.  Padahal tidak apa-apa membiarkan anak mandiri supaya mereka belajar bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan olehnya.

 

Selalu ragu dalam mengambil keputusan


Orang tua helikopter ini tidak membiarkan anak mengambil keputusan yang tak sejalan dengan pemikiran mereka. Mereka menginginkan anaknya mengambil keputusan yang sama dengannya. Mereka lupa bahwa anak memiliki hak hidup untuk menentukan keputusan miliknya. Meskipun dalam mengambil keputusan kadang anak mengalami kegagalan atau kesalahan. Terlalu seringnya orang tua mengambil alih dalam menentukan keputusan membuat anak ragu ketika mereka dihadapkan keputusan yang berat. Anak jadi tidak berkembang karena keputusan yang diambil selalu bertentangan dengan pendapat orang tua.

 

Anak tidak bahagia


Pernahkan orang tua menanyakan bahagia atau tidaknya anak dalam menjalani kehidupan? Atau pernahkah orang tua menanyakan tentang kesulitan hidup apa yang dialami di sekolah ataupun lingkungan kerja? Rasanya orang tua helikopter ini harus sadar bahwa tindakan yang selalu over dalam berbagai aspek kehidupan si anak itu sama sekali tidak membuat anak merasakan kebahagiaan yang sejati. Anak selalu berusaha menampilkan yang terbaik agar orang tua mereka bangga namun orang tua helikopter tidak pernah bertanya mengenai proses dijalani si anak. Hal ini membuat anak selalu mementingkan hasil daripada proses. Jadi, hentikanlah pola asuh helicopter parenting untuk kebahagiaan hidup si anak karena semua orang layak hidup bahagia dengan jalannya masing-masing.

 

Menyebabkan gangguan kesehatan mental


Kesehatan mental anak merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua, terlebih mereka yang sampai saat ini masih menerapkan pola asuh helicopter parenting. Anak bisa saja terlihat baik-baik di hadapan orang tua namun belum tentu perasaannya terlihat baik. Bisa saja diam-diam mereka mengalami stres berat karena selalu mengikuti tuntutan yang orang tua berikan kepadanya. Ditambah tak jarang mereka menemukan problematika hidup yang sulit diutarakan. Baiknya, mulailah pahami keinginan anak. Tanyakan pada mereka perihal minat, kemampuan, dan ingin jadi orang yang seperti apa di masa depan. Cobalah untuk mengurangi tuntutan kepada si anak karena mereka pun pasti punya beban hidup yang mungkin saja mereka pendam sendirian.


Komentar

Postingan Populer