Spektrum Warna

Mengapa mereka memandang kesendirianku sebagai sesuatu yang menyedihkan? Padahal aku tidak kesepian, aku juga bukan orang yang malang, bukan orang yang patut dikasihani hanya karena aku masih sendiri. 

Aku sendiri tapi aku tidak kesepian. Aku punya duniaku sendiri. Aku melakukan banyak hal. Aku menikmati hidupku dan aku senang menjalaninya. Jiwaku memang bergejolak, panas bagai bara api. 

Aku ingin tahu banyak hal. Aku ingin selalu belajar. Belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Kamu anggap itu menyedihkan? Bagaimana jika aku bersama seseorang hanya karena aku takut sendiri? Bagaimana jika bersama dengan orang yang nilai hidupnya berbeda jauh? Bukankah itu lebih menyedihkan? Mungkin aku tidak mengikuti "standar umum" yang telah ditetapkan olehmu.

Menemukan sahabat jiwa tidak dilihat dari punya kesamaan selera musik 80-90an seperti aku. Tidak juga dilihat dari kesamaan dalam memesan segelas minuman es teh hijau. Itu hanyalah bagian kecil.

Aku perempuan yang bebas. Bebas dalam arti punya hak untuk menentukan arah hidup. Aku bebas menjadi apa yang aku inginkan selama itu baik. Progresif karena aku berdaulat atas diriku sendiri. Ini hidupku. Aku takkan menyesalinya.

Aku bahkan tidak tahu siapa yang akan datang lebih dulu, ajal atau sahabat jiwaku? Kamu tak perlu bertanya masa depanku. Aku pun tidak tahu apa yang terjadi besok, lusa, dan tahun depan. Kamu pun tidak tahu apa yang akan terjadi padamu esok hari dan tahun depan 'kan? Hidup hari ini adalah keajaiban. Aku percaya bahwa sesuatu yang baik akan datang di saat aku siap menerimanya.

Kesendirian ini bukanlah kesepian yang menyedihkan. Aku menyebutnya solitude. Aku sadar bahwa diriku menikmati ketenangan, memulihkan diri dari sesuatu pernah kacau. Aku terus bertumbuh. Dan aku benar-benar menyukai diriku yang mungkin jauh dari kata sempurna, tapi itulah aku dan jiwaku.

Apa yang aku tulis bukanlah bentuk kesombongan, ini adalah artikulasi jernih dari jiwaku. Hidupku adalah spektrum warna yang akan aku warnai dengan caraku, bukan abu-abu yang suram.

Komentar