Tentang 10.000

Bagaimana pendapat kamu tentang pria yang meminjam uang di saat baru kenal? Jadi di sini, saya ingin menceritakan hal yang mungkin bisa jadi tanda bahwa seorang itu termasuk bendera merah.

Saya pernah kenal dengan seorang pria, usianya di bawah saya. Menurut saya, dia punya visual yang oke. Secara fisik, bukan termasuk cowok berotot yang sering saya temukan di gym. Perawakannya tinggi. Dia punya pekerjaan yang baik bahkan menjalani beberapa job untuk kehidupannya. Kelihatan tangguh dan punya branding islami. 

Percakapan kita mengalir layaknya orang yang senang berbagi cerita, namun ada sesuatu yang menurut saya enggak beres, dan saya nggak mau membereskannya. Apa itu? Dia punya komunikasi yang buruk, suka datang dan pergi sesukanya. Bagi saya ini menjengkelkan. Saya sudah yakin bahwa orang ini hanya main-main. So I don't take it personally awalnya. Meskipun dari segi looks sangat menarik. Dan saya sempat tertarik. 

Lambat laun, ada momen dimana orang ini berani meminta tolong untuk check out barang yang dibutuhkannya dengan alasan dia enggak ingin barang itu dikirim ke rumahnya, alasannya karena ia tak ingin keluarganya berkomentar bahwa ia senang berbelanja online. Sebetulnya disitu saya sedikit sadar, kenapa ada orang baru deket tapi lancang minta tolong check out? Mengapa tidak menunggu waktu gajian ya? Seinget saya, dia meminta tolong saya check out itu sehari sebelum gajian. Padahal dia bisa menunggu sampai gajian kan? Tapi kenapa malah menyuruh orang lain untuk terlibat dalam urusannya? Oke, disitu saya nggak mau terlalu ambil pusing. Meskipun ada bau-bau redflag karena dia bilang, "duitnya nanti pas ketemu, ya" padahal besoknya gajian. Mengapa nggak transfer saja? Kenapa harus menunda pembayaran? Kita baru deket lho! Kok udah berani menyenggol finansial?

Lambat laun saya sudah merasa janggal dengan orang ini. Seperti biasa, dia datang dan pergi. Komunikasinya tidak lancar. Pokoknya sangat nggak menarik. Lalu dia kembali menghubungi saya, saat itu jam 4 pagi. Saya dan keluarga sedang bersiap untuk sahur. Setelah itu, saya masuk kamar. Mengecek ponsel saya. Ada chat darinya dan riwayat panggilan tak terjawab. Dia menghubungi saya lagi. Dia meminta tolong untuk transfer ke rekeningnya sebesar 200.000 , dia bilang dia ingin check out barang dan ATM dia limit. Limit? Saya nggak tahu definisi ATM limit ini karena dia terlalu banyak transaksi atau limit karena tidak ada saldo? Pikir saya, ada orang jam 4 subuh menghubungi saya hanya untuk check out barang? Kalo urgent sih masuk akal. Disitu saya mulai curiga. Sepertinya saya dibohongi. Toh kalau dia mau check out, dia bisa nunggu jam 7 pagi karena di jam 07.00, uang saya diganti olehnya.

Disitu saya sudah merasa, orang ini seperti memanfaatkan kebaikan saya. Kami bertemu di suatu event, saya ngobrol dengannya seperti biasa. Dengan lancangnya, dia membuka dompet saya. Melihat uang yang ada di dalamnya. Coba deh, pikir pakai logika. Ini bukan tindakan yang sopan kan? Orang ini mencoba untuk mengaburkan batasan-batasan yang saya miliki. Di event itu, dia bilang ke saya bahwa dia haus. Dia ingin minum sesuatu, dia jokes tentang minta dibeliin tapi saat saya membayar tagihan, dia membiarkan saya. Padahal minum cuma 10.000 lho. Kok 10.000 aja minta sama orang lain? Padahal minum untuk kebutuhannya sendiri. Pulang dari event itu emang saya nebeng dia pas pulang. Sebetulnya sudah dua kali saya numpang motornya karena searah dan saya berterimakasih. Di event sebelumnya, dia mengantar saya pulang dan neraktir makan malam. Tapi saya juga membalas kebaikan dia dengan membuatkan dia akun keguruan dan waktu itu saya membelikan dia minuman tanpa dia minta. Jadi saya bukan tipikal orang yang maunya dikasih.

Saya bukan orang yang perhitungan, tapi tindakan-tindakan dia ini sangat tidak irasional. Dan saya bukan tipikal orang yang mudah memaklumi, dari polanya terlihat bahwa orang ini belum dewasa karena pria matang rasanya sungkan untuk melakukan hal-hal tersebut kepada saya. Pria matang tidak akan mungkin menghubungi saya jam 4 pagi hanya untuk check out barang kan? Bahkan orang normal sekalipun rasanya sungkan.

Lucunya adalah dia bilang kalau kita nggak lagi PDKT. Lalu dia anggap saya apa? Bank berjalan? Tempat dia minta tolong? Doraemon gitu? Sorry, saya bukan Superwoman. Saya enggak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari saya. Saya memutuskan untuk BODO AMAT tentang apa yang dia lakukan dan saya menutup pintu agar tidak dimintai tolong. Tidak semua orang yang punya branding islami di sosmed itu benar-benar baik, ya? Cuma saya jadi "tertipu" dengan branding-nya itu.

Anggap saja 10.000 saya adalah harga yang harus dibayar untuk melihat harga dirinya. Saya sebetulnya bukan tipikal orang yang perhitungan kok cuma I don't waste my time with someone like that.

Komentar