Matchalova #1
Pekerjaan hari ini sangat melelahkan. Aku harus bolak-balik mengurus kantor yang baru. Ya, aku dipindahkan ke kantor yang lokasinya hampir 30 kilometer dari kediamanku. Ini sangat melelahkan. Namun aku tidak punya pilihan lain karena jabatanku naik bersamaan dengan mutasi ini.
Aku mengendarai mobil sedanku, kulihat hamparan sawah luas ditumbuhi dengan tanaman hijau. Sangat menyejukkan mata. Perjalanan menuju kantor memang harus melewati jalanan ini, jalanan yang kanan-kirinya adalah sawah. Bertani adalah mata pencaharian warga di sini.
Setibanya di kantor, aku disuguhkan kopi oleh seorang OB. Aku berucap terimakasih kemudian dia berlalu. Aku menatap secangkir kopi itu. Kopi pahit adalah minuman favoritku sejak dulu. Ingat saat-saat menjadi mahasiswa, aku dan teman-temanku sering nongkrong di bawah pohon rindang untuk sekedar minum kopi starling dan ngobrol tentang kehidupan kampus. Sekarang kehidupan sudah berubah, aku fokus dengan hidupku. Meksipun ada keinginan untuk kuliah lagi.
Aku sadar manusia memang tak pernah merasa puas karena aku pun ingin kuliah untuk ketiga kalinya, tapi untuk saat ini waktu belum mengizinkan untuk itu. Pekerjaanku membuatku sibuk.
Aku bangkit dari bangku, melihat ke jendela dari ruangan ini. Mentari pagi masuk ke dalam ruangan kerja. Cukup menghangatkan hatiku. Akhir-akhir aku mencoba menikmati hal kecil dalam kehidupan. Dulu aku terlalu sibuk bekerja, seolah mengejar dunia yang tiada habisnya. Sekarang aku ingin lebih rileks.
"Pak, boleh saya masuk?" ucap seseorang. Dia adalah bagian administrasi di kantor. Aku anggukan kepalaku, mempersilahkan dia masuk.
Tangannya memegang map biru. Aku hafal dengan gelagat ini. Pasti minta tanda tangan. "Silakan masuk, Pak Oka."
Pak Oka masuk, duduk di depan mejaku. Kamin berhadapan. Tanganku sudah memegang bolpoin. Berapa kertas yang harus ditandatangani? Ratusan kah?
"Pak, ini ada berkas yang harus ditandatangani. Saya taruh sini ya, nanti saya ambil. Makasih, Pak Hari."
Benar dugaanku, ada berkas yang harus ditandatangani. Tanpa banyak berpikir, aku langsung menandatangani berkas-berkas itu. Ada sekitar 20 lembar. Setelah itu, aku membuka laptop karena aku harus mengikuti zoom atas arahan atasanku. Aku tidak begitu antusias mengikuti zoom lantaran koneksi jaringan di sini kurang bagus.
-
Selesai bekerja aku langsung merapikan meja kerjaku. Aku tidak pulang on time karena ada banyak pekerjaan yang aku urus. Ada berkas dari atasanku yang harus kukerjakan, termasuk menyiapkan bahan untuk rapat besok. Besok akan ada rapat di kantor.
Aku mengendarai mobilku. Jalanan malam hari memang agak sepi. Salahku bekerja terlalu keras sampai pulang telat. Padahal pulang on time pun tidak masalah. Aku bisa mengerjakannya di rumah. Yah, hari ini aku ingin mampir. Ingin minum kopi susu. Mungkin bisa menyembuhkan pusing di kepalaku.
Aku tiba di jalanan kota, jalanan kota tampak ramai dan penerangaannya cukup baik. Berbeda dengan jalanan menuju kantorku yang lampu jalanannya bisa dihitung jari. Aku juga bingung kenapa kantor itu dibuat di sana.
Aku turun dari mobil begitu sampai di satu kafetaria estetik. Tempat ini tak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Standar. Ada life music yang penyanyinya menyanyikan lagu-lagu lawas. Aku memesan kopi susu lalu duduk. Pesanan akan diantar bukan di pick up.
Saat sedang duduk, aku melihat satu meja dipenuhi anak muda. Ada dua perempuan dan tiga laki-laki. Mereka sedang main kartu UNO. "Yahhh, dia kalah! Ayo cepet harus sesuai perjanjian." seru seorang cowok tinggi dan berkulit putih.
Teman yang lainnya mendorong seorang gadis, seraya meminta gadis itu bangkit dari bangku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lainnya. Tak lama pesananku datang. Kopi susu hangat dan sepiring churros. Aku mengaduk kopi susu itu, menyeruput perlahan. Rasanya pas.
"Permisi, Tuan. Saya boleh minta nomor, Tuan?"
"Apa?" aku menaikkan alis. "Nomor telepon?"
Gadis itu mendekat, setengah berbisik, "saya kalah main UNO. Yang kalah harus minta nomor pengunjung di tempat ini karena saya cuma lihat Tuan yang ada di ruangan ini, jadi saya minta nomor Tuan. Oke?"
Game macam apa itu? Ada-ada saja! Tanpa pikir panjang aku langsung menulis nomor telepon kantor. Tak ada rasa curiga sedikitpun. "Ini nomornya, kamu bisa hubungi nomor ini kalo kamu mau urus KK atau perpanjang KTP."
Gadis itu mengangguk. "Oh, Tuan ini calo ya?"
Sembarangan. Aku menggelengkan kepala. Gadis itu sangat asbun (asal bunyi), kalau ngomong asal ngomong tanpa pikir panjang. Anehnya aku tidak marah, meskipun ia menganggap aku calo yang suka membantu orang untuk mengurus Kartu Keluarga atau KTP. Pekerjaanku memang mengharuskanku untuk mengurusi Kartu Keluarga dan KTP warga. Dan aku bukan calo!
Dia berucap terimakasih lalu kembali ke rombongannya. Di ujung sana, rombongan itu bertepuk tangan. Memuji keberaniannya. Ya, gadis itu sangat berani, menghampiri orang asing untuk minta nomor. Meskipun itu bukan nomor handphone tapi telepon. Ah, ya, ada satu yang tak luput dari pandanganku yaitu segelas matcha latte dingin. Lalu kupandangi minumanku sendiri. Secangkir kopi susu hangat. Rupanya gadis itu suka minuman dingin dan aku suka minuman hangat. Dia suka matcha dan aku suka kopi. Lalu apa masalahnya? Kenapa aku jadi memperhatikan apa yang ia minum?
-
Aku kembali beraktivitas seperti biasa. Tiada yang spesial di kantor baru. Aku mengerjakan pekerjaanku dengan baik. Semua tugas kukerjakan tanpa mengeluh. Selesai bekerja aku langsung bergegas menuju suatu tempat.
Mobilku melaju cepat menuju kafetaria itu. Perjalanan terasa cepat karena jalanan tampak lengang. Hal itu membuatku bahagia. Ah, ya! Hari ini aku ingin makan mix platter dan minum... matcha? Setan apa yang membisikkan telingaku untuk memesan matcha latte dengan less sugar? Entah! Aku memesan minuman yang tak pernah kupesan. Kudengar rasannya pekat seperti daun, tapi aku tetap membelinya. Lupakanlah kopi susu, kopi Vietnam, dan americano.
Pintu kafetaria terbuka. Mataku tertuju pada seseorang yang berjalan ke kasir dengan penuh percaya diri. Sepertinya dia sudah akrab dengan baristanya. Dia enjoy mengobrol. Senyumnya merekah. Kelihatannya dia adalah orang yang approachable. Lesung pipinya sangat menawan. Lipstik berwarna nude terlihat begitu elegan. Effortless beauty. Hari ini dia tidak bersama dengan rombongan UNO itu, maksudku circle-nya yang kemarin main UNO bersamanya.
Pesananku datang, aku pasrah ketika lidah tua ini menjajal matcha. Benar rasanya sangat grassy alias rumput abis! Aku hampir menangis karena rasanya aneh. Anehnya, kenapa ada orang yang menyukai matcha? Sungguh rasanya tak cocok di lidah. Ketahuilah harga matcha yang aneh ini mengalahkan harga kopi Vietnam dan barisan menu kopi-kopi lainnya. Ini gila!
Dari kejauhan aku memandang gadis itu. Dia sendiri, memotret matcha yang ia pesan. Dia juga memesan kentang goreng. Entah sampai kapan dia akan berhenti memotret matcha itu? Lalu apa peduliku? Dia menikmati waktunya sendiri. Sepertinya dia nyaman dengan kesendiriannya, sama sepertiku.
"Sendirian lagi, Tuan?" dia bertanya. Dia tidak bertanya langsung tapi lewat kertas polos ukuran A4 yang diarahkan ke arahku. Di sini tak ada siapapun selain aku. Bagaimana dia mendapati kertas itu? Benar-benar di luar dugaan!
Aku membalas pertanyaan itu dengan anggukan. Kemudian ia membalik kertas dan menuliskan sesuatu di sana, "anda suka matcha?" tanya dia lagi lewat tulisannya.
Aku menggeleng, aku tidak menyukai minuman ini. Aku mencoba pesan matcha karena penasaran. Aku ingat tempo hari gadis itu memesan matcha. Jadi aku ingin mencobanya. Ada gila-gilanya ketika aku memesan sesuatu karena seseorang. Dan orang itu ada di depanku. Kemudian gadis itu tersenyum. Senyuman hangat itu menghujam jantungku. Aku benci reaksi ini tapi aku tak bisa menghentikannya.
Kami tidak saling menghampiri untuk berkenalan. Aku menghargai waktu sendirinya. Kami sibuk dengan hidangan kami di meja masing-masing. Aku tidak berani mengobrol dengannya karena aku tidak seberani itu. Bagiku dia terlalu berwarna dan aku harus sadar diri. Dia penuh energi. Aku suka energinya itu. Dia bagaikan magnet yang menarik perhatianku. Bahkan sedetik pun rasanya rugi mata ini berkedip.
"Siapa dia? Berapa usianya? Dan mengapa dia sangat menarik?"
Sejak hari itu, matcha jadi minuman utamaku di kafetaria. Aku mencoba untuk memesan matcha lagi dan lagi meskipun aku tak menyukainya.
Komentar
Posting Komentar